Sandal Emas

    Share

    xavixavieri
    Newbie
    Newbie

    Male
    Posts : 94
    Join date : 24.02.09
    Reputation : 4

    Sandal Emas

    Post by xavixavieri on 05/03/09, 11:24 pm


    > Sandal Emas
    >
    >
    >
    >
    > Ketika itu, hanya empat hari menjelang Natal. Aku belum merasakan
    > suasana Natal
    meskipun tempat parkir swalayan “Discount Store” sudah
    > dipadati oleh begitu banyak mobil. Situasi di dalam swalayan bahkan
    > lebih buruk.. Kereta belanja dan para pe-ngunjung berderet-deret dalam
    > antrian. Mengapa aku pergi berbelanja hari ini?
    > Aku bertanya pada diriku sendiri. Kaki dan kepalaku sudah terasa sangat
    > nyeri. Daftar belanjaku berisikan nama orang-orang yang menyatakan tak
    > menginginkan apapun, namun aku tahu hati mereka akan terluka bila aku
    > tak membelikan mereka sesuatu. Membelikan untuk mereka yang sudah
    > berkecukupan serta membayangkan betapa mahalnya belanjaan ini,
    > menurutku benar-benar sesuatu yang tak menyenangkan.
    > Aku seg
    > era bergegas memenuhi kereta belanjaanku dan berdiri dalam
    > antrian kasir yang sangat panjang. Aku berusaha memilih antrian yang
    > paling pendek namun tetap saja aku merasa harus mengantri minimal dua
    > puluh menit. Berdiri mengantri di depanku adalah dua orang anak kecil,
    > laki-laki sekitar tujuh tahun serta adik perempuannya. Anak laki itu
    > mengenakan mantel yang sudah koyak. Sepatu tenis yang dikenakannya
    > tampak butut, sementara celana jeansnya pun terlihat terlalu pendek. Di
    > tangannya tergeng-gam beberapa helai uang kertas yang sudah lusuh.
    > Pakaian yang dikenakan adiknya juga terlihat menyerupai dengannya.
    > Rambutnya ikal tebal dan kusut. Dan sisa-sisa makanan masih menempel di
    > wajahnya yang kecil. Ia menjinjing sepasang sandal emas yang
    > ber-kilauan.
    > Sementara lagu Natal
    berkumandang di dalam swalayan, anak perempuan
    > tersebut bersenandung dengan suaranya yang sumbang, namun tetap saja
    > keceriaan tampak di wajahnya. Ketika akhirnya kami hampir tiba di
    > kasir, dengan hati-hati ia meletakkan sandal emasnya di meja kasir.
    > Baginya sandal tersebut seolah-olah merupakan suatu harta karun. Kasir
    > berkata, “Harga sandal ini $6.09.” Sang kakak meletakkan uang lusuhnya
    > di meja kasir seraya merogoh sakunya. Akhirnya uang yang terkumpul
    > hanya $ 3.12.
    > “Wah, sepertinya kami harus mengembalikan sandal ini,” dengan berani ia
    > berkata. “Kami akan kembali lagi kapan-kapan, mungkin besok.” Seiring
    > perkataannya tersebut, sang adik terisak. “Tapi Yesus pasti meny
    > ukai
    > sandal ini,” sambil menangis ia menanggapi kakaknya. “Sudahlah, kita
    > pulang saja dulu dan bekerja lagi. Jangan menangis. Kita pasti akan
    > kembali ke sini.” demikian jawab sang kakak.
    > Dengan segera aku meletakkan $ 5.00 di meja kasir. Anak-anak itu sudah
    > mengantri sedemikian lamanya dan, lagipula, ini adalah hari
    Natal .
    > Tiba-tiba sepasang tangan memelukku dan terdengar suara anak kecil
    > berkata, “Terimakasih, tante,” ternyata suara si anak perempuan. “Apa
    > maksudmu berkata, Yesus pasti menyukai sandal itu?” tanyaku.
    > Sang kakak menjawab, “Ibu kami sakit dan akan pergi ke surga. Menurut
    > Ayah, Ibu mungkin akan pergi sebelum Natal
    untuk bertemu Yesus.”
    > Kemudian anak perempuan itu melanjutkan, “Guru Sekolah Mingguku
    > bercerita bahwa jalan di surga berkilauan seperti emas, sama seperti
    > sandal ini. Pasti Ibu akan terlihat cantik mengenakan sandal ini,
    > sesuai dengan warna jalan.” Air mata mengembang di kedua mataku ketika
    > kulihat anak itu mulai terisak. “Ya,” jawabku. “Aku yakin pasti Ibumu
    > akan terlihat cantik.” Diam-diam aku bersyukur pada Tuhan, yang
    > menggunakan anak-anak ini untuk mengingatkanku akan makna pemberian
    > yang tulus.
    >
    > “Inilah saatnya! Ingatlah bahwa terlebih baik memberi daripada
    > menerima. Maka, sebarkanlah cerita ini” (A.N)
    cheers

      Waktu sekarang 06/12/16, 12:48 pm