Kisah nyata Andy F. Noya-Kick Andy ttg hidup yg lebih baik

    Share

    emotion9
    Administrator
    Administrator

    Male
    Cancer Snake
    Posts : 819
    Location : in u'r database memories...
    Job/hobbies : Admin forum
    Join date : 07.02.09
    Reputation : 61

    Kisah nyata Andy F. Noya-Kick Andy ttg hidup yg lebih baik

    Post by emotion9 on 08/03/09, 12:55 pm

    Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri
    Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan
    dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku,
    melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu
    selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado
    yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu
    ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal
    ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya
    juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? malamnya, soal
    gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang
    mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

    Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke
    perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena
    harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu
    saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.
    Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya
    melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru,
    sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan
    perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di
    luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu,
    inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring
    sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada
    uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop
    out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan
    Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis
    Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir sayaterus
    meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan
    Metro TV.

    Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut
    jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi
    gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan
    tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya
    sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya
    penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya
    tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

    Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak
    kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi
    trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama
    seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman
    yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.

    Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya
    tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya
    langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya
    sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi
    mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi
    kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali
    empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana
    saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama
    kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil
    datang. dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya
    dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

    Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak
    bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion
    mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu,
    pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan
    penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu
    itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan,
    order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma
    satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan
    saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.

    Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap
    akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang.
    Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang
    untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir
    bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di
    mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion
    mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami
    yang hanya menumpang di sebuah garasi?

    Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu
    juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil
    itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.

    Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil
    mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim
    layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan
    jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada
    saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang
    gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil
    melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
    Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di
    dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat.
    Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati
    nurani.

    Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah
    begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak
    di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang
    sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya
    tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado
    langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah
    merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan
    gado-gado di pinggir jalan. Sekarang,
    apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang
    enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya
    tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab
    kamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan
    bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa
    tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji
    yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya
    tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado
    yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi
    sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.

    Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif.
    Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya
    tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam
    kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil
    saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng
    terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang,
    sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan
    mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika
    menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.
    Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena
    terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik
    bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya
    ketika menabrak kaca spion.

    Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.
    Sang ibu, yang ecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf
    atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha
    meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.
    Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera
    luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya
    tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil
    yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
    Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu
    saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak
    ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya
    rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup
    yang pahit.

    Refleksi:
    Mengapa harus sombong dengan kekayaan yang kita miliki, karena kekayaan
    tiada berguna sama sekali, lebih baik menghidupkan lagi rasa toleransi yang
    ada pada diri untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

    ============ ========= ========= ===

    “My mom said man only need few rich, the remain is only for show up”. Manusia hanya butuh sedikit kekayaan, sebab sisanya hanyalah digunakan untuk pamer.
    (petikan dari dialog Tom Hanks di Forrest Gump) o:

      Waktu sekarang 08/12/16, 07:09 am